“Mereka hidup secara nomaden. Ada yang tinggal di bedeng-bedeng sederhana, kolong jembatan Kali Sunter di perbatasan Depok dan Bekasi, bahkan di gubuk sekitar area makam di Jatisampurna,” kata Eddie.
Ia menegaskan bahwa anak-anak memiliki potensi dan harapan besar untuk masa depan yang lebih baik. Karena itu, keberadaan rumah singgah diharapkan menjadi ruang aman bagi mereka untuk belajar, tumbuh, serta mengembangkan karakter.
“Dengan adanya shelter, mereka memiliki tempat tinggal yang sehat sekaligus ruang belajar yang layak,” ujarnya.
Peringatan HUT ke-31 Yayasan Humaniora Rumah Kemanusiaan juga diisi dengan doa tasyakuran, santunan kepada sekitar 90 anak yatim, anak jalanan, dan anak dari keluarga pemulung, serta kegiatan berbuka puasa bersama.
Sebelumnya, pengurus yayasan juga menyerahkan santunan kepada para janda lanjut usia yang berprofesi sebagai pemulung dalam kegiatan yang digelar di Sanggar Humaniora.
Tema peringatan tahun ini adalah “Karya Bakti Sisi Manusiawi Kita untuk Pemulung Anak dan Anak Terlantar.” Tema tersebut menegaskan pentingnya tanggung jawab sosial, empati, dan aksi nyata untuk memanusiakan manusia.
“Tidak cukup hanya merasa kasihan. Kita harus melakukan sesuatu yang konkret untuk memperbaiki nasib anak-anak yang kurang beruntung,” kata Eddie.
Acara tersebut turut dihadiri sejumlah tokoh dan perwakilan organisasi, di antaranya Herry Budiman dari DPP Sekretariat Bersama Wartawan Indonesia (SWI), Agus Santosa dari Program Jumat Berkah Wartawan, serta Gamal Putra dari Forum Wartawan Hiburan (FORWAN) Indonesia.


