LONDON, TERMINALNEWS.CO – Liga Champions merupakan hadiah paling bergengsi dalam sepak bola Eropa.
Dari sejarahnya sebagai European Cup hingga format terbarunya, kompetisi ini menjadi puncak kejayaan yang diidamkan klub-klub Benua Biru.
Lebih dari sekadar prestise, Liga Champions juga menawarkan pemasukan finansial yang luar biasa, baik dari hak siar televisi maupun pendapatan pertandingan yang jauh lebih besar dibandingkan laga liga domestik.
Tak heran, klub-klub—terutama dari Premier League—berlomba-lomba menembus kompetisi ini. Hadiah uang hanya untuk lolos ke fase grup saja sangat besar, terlebih dengan format baru yang diberlakukan mulai musim 2024/2025.
Dulu, pelatih legendaris Arsenal, Arsene Wenger, sempat mendapat kritik karena menyamakan finis di empat besar dengan meraih trofi.
Namun kini, dengan besarnya nilai uang yang bisa didapat hanya dari tampil di Liga Champions, pendapat tersebut semakin bisa dipahami.
Dalam era Financial Fair Play (FFP) dan aturan Profit and Sustainability Regulation (PSR) yang semakin ketat, klub-klub papan atas sangat bergantung pada pendapatan dari partisipasi di Liga Champions.
Pendapatan ini bisa berasal dari hak siar hingga penjualan tiket pertandingan kandang.
Ahli keuangan sepak bola, Kieran Maguire, mengungkap potensi pemasukan klub hanya dari lolos ke fase grup. Angka ini meningkat dari tahun ke tahun, mencerminkan nilai ekonomi Liga Champions yang terus naik.
Berikut data perkembangan hadiah uang untuk lolos ke fase grup Liga Champions dari tahun ke tahun:


