“Tahap ini tidak hanya bertujuan untuk meninjau kembali efektivitas pengamanan yang sudah dilakukan, tetapi juga untuk memperkuat silaturahmi dan koordinasi dengan semua instansi yang terlibat,” timbuhnya.
Selain asesmen, terang Roedy, BNPT juga terus meningkatkan kesadaran dan meningkatkan ketahanan masyarakat dari paham radikalisme dan terorisme.
Langkah itu dilakukan agar terbentuk ketahanan nasional dan tercipta daya tangkal dan daya lawan dari masyarakat.

Kemudian dengan cara bersama menyelenggarakan sosialisasi bagaimana bahaya dan ancaman nyata dari radikalisme dan terorisme.
Lebih lanjut, Roedy memaparkan tiga komponen utama dalam upaya pencegahan terorisme yang dilaksanakan BNPT, yaitu kesiapsiagaan nasional, kontra radikalisasi, dan deradikalisasi. Dalam konteks kesiapsiagaan nasional BNPT melakukan pembentukan Desa Siap Siaga di seluruh Indonesia. Kemudian upaya kontra radikalisasi BNPT telah membentuk Forum Koordinasi Pencegahan Terorisme (FKPT) di 34 Provinsi di seluruh Indonesia. Kemudian juga telah dibentuk Duta Damai di 19 provinsi dan duta damai santri di 2 provinsi.
Ia bersyukur PON XXI berjalan dengan lancar, aman, damai, dan harmoni seperti yang diharapkan. Terlepas dari ada atau tidaknya ancaman terorisme selama PON XXI, semua pihak telah berbuat maksimal dalam rangka mencegah potensi ancaman terorisme.
“Mencegah itu lebih baik daripada mengobati. Harapan kita bersama di wilayah Aceh dan Sumut alhamdulilah sudah baik karena sukses PON XXI menjadi tugas kita bersama. Kita lawan radikalisme dan teroirsme dengan kasih sayang, kita kobarkan rasa damai, rasa cinta, dengan perbedaan yang ada kita jadikan kekuatan. meski berbeda tetap satu juga. Tan hana dharma mangrwa,” ucapnya.


