Kasus dugaan kekerasan seksual atlet panjat tebing ini dinilai menjadi alarm serius bagi seluruh pemangku kepentingan olahraga nasional.
Verrell meminta agar evaluasi menyeluruh dilakukan, tidak hanya di cabang panjat tebing, tetapi juga di seluruh federasi olahraga.
Ia menilai sistem pembinaan atlet harus disertai mekanisme pengawasan ketat dan standar perlindungan yang jelas. Hal tersebut mencakup regulasi internal, prosedur pelaporan, hingga sanksi tegas bagi pelaku pelanggaran.
“Kasus ini menjadi pengingat bahwa integritas pembinaan atlet harus diutamakan. Sistem pengawasan dan perlindungan di federasi olahraga maupun pelatnas harus diperkuat agar kasus serupa tidak terulang,” ucapnya.
Lebih jauh, Verrell menilai peristiwa ini bukan hanya menyakitkan bagi korban, tetapi juga berdampak terhadap citra olahraga nasional.
Indonesia selama ini dikenal sebagai salah satu kekuatan panjat tebing dunia dengan torehan prestasi di berbagai kejuaraan internasional. Namun, reputasi tersebut bisa tercoreng jika tata kelola dan perlindungan atlet diabaikan.
DPR RI, lanjut Verrell, akan terus mengawal perkembangan kasus ini dan memastikan proses investigasi berjalan transparan serta akuntabel.
Ia berharap semua pihak, termasuk federasi dan pemerintah, dapat bersikap terbuka serta menjunjung tinggi prinsip keadilan.
“Olahraga bukan hanya soal medali, tetapi juga soal nilai dan karakter. Kita harus memastikan bahwa sistem pembinaan berjalan bersih, profesional, dan berpihak pada keselamatan atlet,” tutupnya.


