Salah satu peristiwa paling memilukan adalah penghinaan terhadap Drupadi, istri Pandawa, yang dipertaruhkan dalam permainan dadu dan hampir ditelanjangi di hadapan para bangsawan. Peristiwa ini menjadi luka batin yang mendalam dan meneguhkan sumpah balas dendam, sekaligus menandai runtuhnya nilai keadilan di Astinapura.
Setelah masa pengasingan yang panjang dan upaya damai yang ditolak mentah-mentah oleh Kurawa, perang besar pun tak terelakkan. Baratayuda terjadi di Padang Kurukshetra dan berlangsung dengan dahsyat, menelan korban dari kedua belah pihak. Pada akhirnya, kebenaran dan keadilan berpihak kepada Pandawa, meski kemenangan itu dibayar dengan penderitaan dan kehilangan yang besar.
Usai perang, Yudhishthira dinobatkan sebagai Raja Kuru. Namun kejayaan duniawi tidak membuat Pandawa terikat selamanya. Di akhir hayatnya, mereka bersama Drupadi menempuh perjalanan suci menuju Pegunungan Himalaya. Satu per satu gugur dalam perjalanan, hingga hanya Yudhishthira yang mencapai puncak dan diizinkan memasuki surga sebagai manusia.
Kisah Mahabharata dan Baratayuda hingga kini tetap hidup dalam budaya Indonesia terpatri dalam wayang, sastra, relief candi, serta nilai-nilai kehidupan yang mengajarkan tentang kesetiaan, pengorbanan, dan keadilan. Sebuah warisan budaya yang tidak hanya indah untuk diceritakan, tetapi juga bermakna untuk direnungkan.[] Foto : Istimewa.


