“Kaset80an bukan hanya soal nostalgia, tapi soal keberlanjutan. Kami ingin para musisi era 80-an tetap hadir dan karya-karyanya terus hidup,” ujar Refida. Ia menyebut dekade 80-an sebagai periode emas musik, di mana karakter, eksplorasi, dan emosi begitu kuat terasa.
Nama KASET80AN pun bukan pilihan acak. Kaset, bagi Refida, adalah medium yang personal dan membumi. Menariknya, format ini justru kembali dilirik generasi muda. Lagu-lagu lama kini dicari, diputar ulang, bahkan diaransemen kembali dengan sentuhan baru membuktikan bahwa musik lintas zaman tak pernah benar-benar usang.

Malam nostalgia ini turut dihadiri sejumlah figur publik seperti Sandi Sundoro, Margie Segers, dan Charles Bonar Sirait, yang tampak larut dalam suasana. Bagi mereka, BLOK M IN 80s bukan sekadar tontonan, melainkan perjalanan waktu menghidupkan kembali rasa, kenangan, dan energi yang pernah ada.
Ke depan, KASET80AN tak ingin berhenti di Jakarta. Rencana untuk membawa “virus” musik 80-an ke kota-kota lain seperti Bogor, Semarang, Surabaya hingga ke Medan sudah disiapkan, bahkan dengan mimpi lebih besar: menjadikannya misi budaya ke luar negeri bagi diaspora Indonesia yang merindukan lagu-lagu masa muda mereka.
Di ujung tahun, ketika banyak orang sibuk menghitung resolusi, BLOK M IN 80s justru mengajak untuk sejenak menoleh ke belakang untuk merayakan musik, memori, dan pertemuan yang membuat waktu terasa berhenti, walau hanya semalam.


