“Di Sanggar Tunas Jaya, kami diajarkan untuk membuka diri terhadap nilai baru tanpa meninggalkan filosofi lama,” tambah Sentanu, yang tumbuh di bawah bimbingan kakeknya, Ki Dalang Naman Sanjaya BP, pendiri sanggar di Kota Bekasi.

Dari Panggung ke Layar Film
Pertunjukan itu turut dihadiri jajaran Yayasan Humaniora Rumah Kemanusiaan, yang kini tengah menyiapkan film dokumenter tentang perjalanan Wayang Betawi. Film ini akan digarap oleh Eddie Karsito bersama Igma Studio (PT. Digital Media Fasilindo) dan Kementerian Kebudayaan RI.
“Film adalah sarana efektif untuk mendokumentasikan dan menumbuhkan kesadaran budaya. Melalui narasi visual, kita bisa menjangkau generasi muda yang akrab dengan layar,” tutur Eddie, yang akan menyutradarai film tersebut.
Dalam film itu, Ki Sentanu tak hanya menjadi narasumber utama, tapi juga pemeran sentral — menggambarkan perjalanannya menghidupkan kembali seni wayang di tanah Betawi.
Menuju Hari Wayang Nasional
Selepas pementasan ini, Ki Sentanu dijadwalkan tampil kembali pada Hari Wayang Nasional (HWN) 2025, di Gedung Wayang Kautaman, Jakarta Timur, pada 7 November mendatang. Ia akan menampilkan garapan baru yang menggabungkan unsur Betawi, Sunda, dan Jawa dalam satu repertoar.
Bagi Sentanu, wayang bukan sekadar pertunjukan, melainkan “bahasa kebudayaan” yang menyatukan nilai, humor, dan falsafah hidup masyarakat Nusantara.
“Kalau anak muda bisa tertawa, kagum, dan merasa bangga menonton wayang — di situlah tradisi menemukan napas barunya,” ujarnya menutup perbincangan.|Foto : Istimewa


