JAKARTA, TERMINALNEWS.CO – Black Brothers merupakan grup band kenamaan,beranggotakan enam pemusik asal Irian Jaya Papua, kembali mencuri perhatian penikmat musik Indonesia.
Meski telah mengalami pergantian personil dan berbagai kontroversi, mereka tetap menjadi salah satu grup band papan atas pada tahun 1976 dan karyanya hingga kini tetap dikenal dan dicintai.
Pada masa keemasannya, salah satu lagu ciptaan Hengky MS, “Kisah Seorang Pramuria,” sempat menimbulkan kontroversi karena dianggap sangat identik dengan Charles Hutagulung.
Namun, Black Brothers tidak goyah dan terus berkarya dengan lagu-lagu yang membumi, seperti “Hari Kiamat,” “Derita Tiada Akhir,” “Lonceng Kematian,” “Hilang,” dan lainnya.
Dari enam personil awal, yakni Hengky MS ‘Mirantoneng Sumanti’ (Lead Vocal & Guitar), Benny Bettay (Bass), Jochie Pattipeiluhu (Keyboard/Organ), Amry Kahar (Trumpet), Stevie Mambor (Drum & Vocal), David Rumagesan (saksofon & Vocal), saat ini tinggal tersisa tiga orang yang satu diantaranya adalah Amry Kahar, pemain trumpet yang kini menetap di Belanda.
Dalam kesempatan liburannya ke Indonesia, Amry mengenang masa keemasan bersama Black Brothers dengan penuh kebahagiaan.

“Saya merasa bahagia bisa datang ke Indonesia dalam suasana pembangunan Jakarta yang begitu maju pesat,” ujarnya,dalam sebuah reunian dan HBH dirumahnya daerah Cipayung Depok, Senin(1/4) lalu
Amry bercerita tentang masa lalu ketika Black Brothers begitu dicintai oleh masyarakat Indonesia melalui lagu-lagu yang mereka ciptakan.


