Dalam kesempatan tersebut, Eddie menekankan pentingnya pendidikan dasar hingga menengah, termasuk opsi sekolah berasrama, bagi anak-anak dari latar belakang rentan.

Menurutnya, pendidikan tidak hanya memberikan ijazah, tetapi juga membuka peluang hidup yang lebih baik. “Dengan pendidikan dan keterampilan, mereka punya kesempatan keluar dari lingkaran kemiskinan dan tidak harus mengikuti pekerjaan orang tuanya,” katanya.
Memasuki Tahun Ajaran Baru 2026, yayasan tersebut telah mendaftarkan 21 anak binaannya ke berbagai jenjang pendidikan, mulai dari TPA, TK, SD, SMP hingga program kesetaraan Paket A.
Secara keseluruhan, Yayasan Humaniora Rumah Kemanusiaan saat ini membina 94 anak dari keluarga pemulung, pengamen, pedagang asongan, buruh pabrik, hingga pekerja sektor informal lainnya. Sebagian dari mereka merupakan anak yatim piatu.
Eddie menjelaskan, kesempatan bersekolah diharapkan mampu membentuk karakter sekaligus meningkatkan rasa percaya diri anak-anak tersebut.

“Mereka perlu merasa memiliki harga diri, berani beradaptasi, dan tumbuh seperti anak-anak pada umumnya,” ujarnya.
Selain pendidikan formal, yayasan juga mendorong pengembangan kreativitas dan keterampilan melalui pendidikan informal. Hal ini dinilai penting untuk melindungi anak dari risiko eksploitasi sekaligus membekali mereka dengan kemampuan praktis.
Program pendidikan yang dijalankan yayasan menjadi bagian dari upaya jangka panjang untuk memutus rantai kemiskinan di kalangan masyarakat marginal perkotaan.
Eddie menegaskan, tanggung jawab terhadap kesejahteraan anak bukan hanya berada di tangan pemerintah, tetapi juga masyarakat luas. “Anak adalah subjek hukum yang harus dilindungi, dijaga, dan dibimbing agar dapat mencapai masa depan yang lebih baik,” katanya.
Selain fokus pada pendidikan, Yayasan Humaniora Rumah Kemanusiaan juga aktif mendampingi ratusan warga miskin kota yang tersebar di wilayah perbatasan Bekasi, Depok, Bogor, dan Jakarta Timur.

Pendampingan mencakup berbagai aspek kehidupan, mulai dari pengurusan dokumen kependudukan seperti KTP, Kartu Keluarga, akta kelahiran, hingga bantuan dalam persoalan sosial seperti pernikahan, kelahiran, dan kematian.
Kegiatan tersebut turut dihadiri sejumlah pengurus yayasan, di antaranya Iwan Gardiawan (Dewan Pembina), Ageng Kiwi (Dewan Penyantun), serta Imam Dzaky Syukria Darmawan selaku Ketua Bidang Sosial, bersama para relawan dan pemerhati sosial lainnya.
Melalui berbagai program tersebut, yayasan berharap semakin banyak anak dari keluarga marginal yang mendapatkan akses pendidikan layak dan peluang masa depan yang lebih cerah.


