Sementara itu, Mpok Ita mengaku tidak mengetahui secara pasti apa yang membuat kuliner racikannya begitu diminati.
“Enggak tahu saya juga. Masak biasa aja. Tapi kata orang nasi uduk sini enak. Ya alhamdulillah,” ujarnya merendah.
Namun bagi banyak pengunjung, perpaduan seluruh elemen hidangan—mulai dari nasi uduk, empal goreng, semur jengkol, hingga sambal merah—menjadi alasan utama yang membuat warung ini istimewa.
Semur jengkol yang sering kali habis lebih awal disebut memiliki rasa manis gurih yang meresap hingga ke dalam.
Sementara ayam gorengnya terkenal memiliki tekstur renyah di luar namun tetap lembut di dalam.
Para pelanggan yang datang jauh dari luar Jakarta Selatan juga memberikan penilaian positif.
Mereka menilai nasi uduk Mpok Ita memiliki rasa autentik Betawi yang semakin jarang ditemukan saat ini.
Tidak mengherankan jika dalam waktu dua jam sejak buka, sebagian besar menu sudah habis terjual.
Warung Nasi Uduk Betawi Mpok Ita pun kini semakin dikenal di media sosial. Sejumlah foodies telah mengunggah ulasan mereka, rata-rata memberi penilaian tinggi terutama untuk rasa gurih nasi dan empuknya empal goreng.
Dengan harga terjangkau dan porsi memuaskan, warung ini diperkirakan akan terus menjadi destinasi kuliner favorit di kawasan Jagakarsa.
Keberhasilan Mpok Ita dalam mempertahankan cita rasa klasik Betawi membuat warungnya menjadi bagian dari kekayaan kuliner Jakarta Selatan.
Meski hanya warung di gang kecil, kelezatan yang disajikan mampu menghidupkan kembali kenangan kuliner tradisional yang semakin jarang ditemui di tengah perkembangan pesat industri makanan modern.


