
Hatten Wines telah menunjukkan kemampuan untuk bersaing di pasar global sekaligus menyerap tenaga kerja lokal.
Dengan lebih dari 260 tenaga kerja, perusahaan ini tidak hanya memproduksi wine tetapi juga menyediakan pelatihan dan sertifikasi, menjadikannya sebagai pusat edukasi bagi sumber daya manusia di industri wine.
“Kerja sama dengan politeknik pariwisata dan institusi ekonomi kreatif sangat mungkin untuk mengembangkan SDM yang lebih terampil,” ujar Evita.
*Potensi Industri dan Tantangan*
Industri minuman beralkohol, termasuk wine, memiliki potensi besar seiring pertumbuhan sektor pariwisata dan hospitality di Indonesia.
Data Kementerian Keuangan menunjukkan penerimaan cukai minuman beralkohol pada tahun 2023 mencapai Rp8,1 triliun, meningkat signifikan dibandingkan tahun sebelumnya.
Meski demikian, Evita mencatat tantangan dalam promosi dan branding wine lokal di pasar domestik, karena banyak wisatawan dan pelaku bisnis masih memilih produk impor.
Selain itu, Evita juga menyoroti perlunya evaluasi strategi pariwisata pascapandemi. Meskipun kunjungan wisatawan mancanegara menunjukkan tren peningkatan, angka tersebut belum kembali ke level pra-pandemi.
“Sinergi antara pemerintah, pelaku industri, UMKM, dan masyarakat sangat penting untuk memastikan pariwisata Indonesia yang maju, berdaya saing, dan berkelanjutan,” tuturnya.
Dengan penguatan regulasi, dukungan terhadap industri lokal seperti Hatten Wines, serta promosi yang lebih gencar, diharapkan pariwisata Indonesia dapat memberikan kontribusi lebih besar bagi pembangunan ekonomi nasional dan kesejahteraan masyarakat. (DaBon)


