Selain itu, PPIH memastikan jemaah yang masih menjalani perawatan di rumah sakit maupun Klinik Kesehatan Haji Indonesia (KKHI) tetap mendapatkan pendampingan penuh. Jemaah sakit akan diberangkatkan ke Makkah setelah dinyatakan layak oleh tim medis.
Di sisi lain, pelayanan terhadap jemaah lanjut usia dan penyandang disabilitas tetap menjadi perhatian utama petugas. Kepala PPIH Sektor Bir Ali, Divia Ardianto, mengatakan seluruh personel tetap disiagakan hingga keberangkatan terakhir.
Petugas juga menyediakan fasilitas golf car bagi jemaah lansia yang kesulitan berjalan menuju bus keberangkatan.
“Kami ingin jemaah lansia tetap nyaman menjalani proses miqat tanpa harus kelelahan berjalan jauh,” ujar Divia.
Cuaca panas menjadi tantangan tersendiri dalam operasional haji tahun ini. Suhu di Madinah dalam beberapa hari terakhir mencapai 42 derajat Celsius dan diprediksi meningkat di Makkah saat fase Armuzna berlangsung.
Karena itu, jemaah diimbau rutin mengonsumsi air putih, menggunakan payung dan masker, serta mengurangi aktivitas di luar ruangan yang tidak mendesak agar kondisi tubuh tetap stabil.
Berakhirnya operasional gelombang pertama di Madinah juga menandai pergeseran fokus pelayanan PPIH menuju Makkah. Sebagian besar petugas kini mulai diperbantukan untuk memperkuat layanan selama fase Armuzna, mulai dari pergerakan menuju Arafah, mabit di Muzdalifah, hingga pelayanan di Mina.
Setelah fase puncak haji selesai, PPIH Daker Madinah kembali akan bersiap menyambut kedatangan jemaah gelombang kedua dari Makkah untuk melanjutkan rangkaian ibadah dan ziarah di Kota Nabi.|Sumber Kementrian Haji.


