Sebagai bentuk implementasi komitmen tersebut, Ghosun Iron Camp menjalin koordinasi dengan pemerintah setempat guna memperluas akses pembinaan bagi anak-anak yang membutuhkan pendampingan.
Langkah itu mendapat respons positif dari aparatur wilayah yang berencana mengikutsertakan sekitar 20 anak dalam kegiatan pembinaan olahraga yang diselenggarakan.
Kerja sama tersebut diharapkan mampu memperkuat sinergi antara komunitas olahraga dan pemerintah dalam menghadirkan program yang memberikan dampak nyata bagi masyarakat.
Dukungan dari berbagai pihak dinilai penting untuk memastikan keberlanjutan program pembinaan dalam jangka panjang.
Menurut Susanto, olahraga memiliki peran strategis dalam membentuk karakter generasi muda.
Selain meningkatkan kebugaran fisik, olahraga juga mengajarkan nilai-nilai disiplin, kerja keras, sportivitas, tanggung jawab, dan semangat kebersamaan.
“Olahraga mampu mengarahkan energi anak-anak dan remaja ke aktivitas yang produktif. Mereka tidak hanya belajar tentang teknik olahraga, tetapi juga belajar menghargai proses, bekerja sama, dan memiliki mental yang kuat dalam menghadapi tantangan,” katanya.
Ghosun Iron Camp sendiri tidak hanya menyediakan pelatihan tinju. Untuk memberikan kesempatan yang lebih luas kepada peserta, lembaga tersebut juga membuka pembinaan berbagai cabang olahraga bela diri lainnya seperti silat, taekwondo, karate, dan wushu.
Keberagaman cabang olahraga tersebut memungkinkan peserta memilih bidang yang sesuai dengan minat dan bakat masing-masing.


