“Permintaan Yura adalah membacakan surat Al-Fatihah. Tapi baru gue dengarkan
lagunya sudah keren. Namun, sebelum Al-Fatihah, doanya agak panjang. Intinya,
gue membacakan satu ayat: ‘Rabbi laa tadzarni fardan wa anta khoirul waaritsin’ (Ya
Tuhanku, janganlah engkau membiarkan aku hidup seorang diri dan engkaulah
waris yang paling baik). Intinya, kita meminta kepada Tuhan, agar tidak dibiarkan
hidup sendiri,” terang Habib Jafar.
Bagi Habib Jafar, lagu “TANDA” menjadi sebuah pengingat tentang keresahan yang
ia rasakan selama lima tahun belakangan menjadi pendakwah di jalur industri
populer.
Ia bertanya-tanya tentang apakah jalan yang ia pilih saat ini adalah jalan
yang tepat dan diridai oleh Allah.
“Gue sedang mencari tanda, dan lagu ini jadi mengingatkan pada sesuatu yang
rasanya tidak ingin untuk diingat, tapi memang harus. Dicari tandanya sampai
ketemu. Sampai kapanpun, yang jelas berusaha ikhlas lillahi ta’ala berada di bawah
bimbingan guru, meminta doa orangtua, nasehat dari mereka, orang yang gue cinta,
dan bahkan orang yang gue benci. Siapa tahu bisa diambil manfaatnya,” kata Habib
Jafar.
Bagi Habib Jafar, hidup adalah perkara mencari tanda. Tanda untuk bisa kembali
pada Tuhan, dan ke tempat asal kita bermula. Ia menganalogikan, mencari tanda
serupa dengan mencari sinyal wi-fi, yang akan membuat kita terkoneksi ke segala
hal.
“Kalau tidak kuat sinyalnya, kita hanya tidak akan ke mana-mana dan semakin jauh
dari tanda-tanda yang akan diberikan. Hanya terkoneksi ke diri dan bukan
kerendahan hati yang tumbuh, tapi egoisme,” lanjutnya.


