BOGOR, TERMINALNEWS.CO – Suasana alam terbuka di Hopeland Camp, Cijeruk, menjadi saksi penting lahirnya generasi baru Klub Pencinta Alam ELPALA SMA Negeri 68 Jakarta. Selama tiga hari, Kamis hingga Sabtu (23–25/4), organisasi ini menggelar pelantikan anggota angkatan ke-41 sebagai bagian dari proses kaderisasi yang terus dijaga konsistensinya.
Kegiatan tersebut tidak hanya menjadi seremoni pelantikan, tetapi juga momentum peneguhan nilai-nilai dasar organisasi. Sejumlah tokoh penting turut hadir, mulai dari pendiri ELPALA Dar Edi Yoga dan Eka Bama Putra, hingga anggota lintas generasi. Turut hadir pula Hendrata Yudha dari TRAMP yang juga pemilik Hopeland Camp, Pembina ELPALA Rahman Rudyansyah, serta Ketua ELPALA saat ini, Dafa Maheswara.
Dalam rangkaian kegiatan ini, ELPALA kembali menekankan pentingnya keselamatan sebagai prinsip utama dalam setiap aktivitas di alam bebas. Bagi organisasi ini, keselamatan bukan sekadar aturan formal, melainkan bagian dari budaya yang harus melekat dalam diri setiap anggota.
Pembina ELPALA, Rahman Rudyansyah, menegaskan bahwa pemahaman tentang keselamatan menjadi fondasi yang tidak bisa ditawar. Ia menyebut, setiap anggota harus mampu mengenali batas kemampuan diri, disiplin terhadap prosedur, serta memiliki kepedulian terhadap rekan satu tim.
“Keselamatan adalah prinsip dasar. Ini bukan hanya soal materi yang diajarkan, tapi bagaimana menjadi kebiasaan dalam setiap kegiatan,” ujarnya.
Hal senada disampaikan oleh pendiri ELPALA, Dar Edi Yoga. Ia menilai bahwa pendidikan di dalam organisasi pencinta alam seharusnya tidak hanya berfokus pada ketahanan fisik, tetapi juga membentuk pola pikir dan karakter.
“Yang utama adalah bagaimana anggota mampu berpikir, bertanggung jawab, dan mengambil keputusan dengan tepat di alam terbuka,” kata Dar Edi.
Ia juga menambahkan bahwa kesadaran akan keselamatan harus tumbuh dari dalam diri setiap anggota, bukan sekadar mengikuti instruksi. Menurutnya, kemampuan teknis tidak akan berarti tanpa didukung kesadaran tersebut.
Sebagai organisasi yang terus beradaptasi, ELPALA telah melakukan berbagai pembaruan dalam sistem pendidikannya. Sejak 2004, pola pendidikan semi militer dihapus dan digantikan dengan pendekatan yang lebih edukatif. Praktik bullying maupun perpeloncoan pun dilarang keras dalam setiap proses kaderisasi.
Materi pendidikan yang diberikan mencakup berbagai keterampilan penting di alam terbuka, seperti navigasi darat, teknik bertahan hidup (survival), hingga manajemen perjalanan. Pendekatan ini dinilai relevan untuk membentuk anggota yang tidak hanya terampil, tetapi juga bertanggung jawab.
Melalui pelantikan angkatan ke-41 ini, ELPALA berharap dapat melahirkan generasi pencinta alam yang tidak hanya kuat secara fisik dan teknis, tetapi juga memiliki etika, kesadaran keselamatan, serta kepedulian terhadap lingkungan.


