Sesi kedua seminar digelar di Paviliun Indonesia pada pukul 13.00–15.00 waktu Kairo dengan menghadirkan ulama dan pemikir sosial asal Mesir, Syaikh Amr al-Wardani. Ia mengulas konsep harmoni sosial (insijām ijtimā‘ī) sebagai fondasi pengelolaan zakat dan wakaf yang berkelanjutan.
Syaikh Amr memperkenalkan lima pilar harmoni sosial yang ia sebut sebagai konsep “5G”, yakni tujuan dan visi yang jelas (ghāyah wa ru’yah), kesungguhan moral (giddiyyah), tata kelola berbasis kompetensi (gidārah, kafā’ah wa mahārah), kualitas pelaksanaan (gaudah), serta keindahan nilai dan etika kemanusiaan (gamāl).
“Harmoni sosial tidak lahir secara otomatis, tetapi dibangun melalui tata kelola zakat dan wakaf yang berorientasi pada nilai, kualitas, dan kemanfaatan nyata bagi masyarakat,” jelasnya.
Kepala Unit Percetakan Al-Qur’an (UPQ), Bimas Islam Kementerian Agama, Ismail Nur, mengatakan, keikutsertaan Paviliun Indonesia di CIBF ke-57 menjadi momentum penting untuk memperkenalkan karya dan pemikiran Islam Indonesia ke dunia internasional.

“Keikutsertaan Paviliun Indonesia pada Pameran Buku Internasional ke-57 di Kairo memberikan kesempatan bagi kami untuk memperkenalkan Mushaf Isyarah yang diperuntukkan bagi penyandang disabilitas rungu di seluruh dunia. Pameran ini juga mengenalkan karya ulama Nusantara yang membawa ajaran Islam terbuka, moderat, dan toleran, sekaligus memperkenalkan konsep ekoteologi yang menjaga harmoni alam dan manusia,” urainya.


