Bisa dibilang Pekik Hening di Lantang Angan kontemplatif, perlu kesadaran spiritual atau bahkan religius untuk menyesapkannya secara nikmat. Bukan lantas terbatasi akan nasehat apalagi syariat, album ini adalah biskuit pendamping kopi pahit yang bernama jalan hidup.
Atau justru sebaliknya, inilah kopi pahit pendamping biskuit manis bernama kesenangan hidup. Menerima hidup apa adanya. Serba berkecukupan.
Layaknya kebahagiaan, ketenangan jiwa pun harus diraih dan diupayakan dari dalam diri. Salah satunya lewat penerimaan jalan hidup.
Maka, diputuskanlah pada bulan Ramadan 2025 Pekik Hening di Lantang Angan ditayangkan secara luas di semua gerai musik digital untuk seksama diperdengarkan. Satu nomor andalan yang ditawarkan saat peluncurannya yaitu “Selam Hati Sulam Diri”.
Sebuah lagu hasil kolaborasi dengan Endah Widiastuti, vokalis Endah N Rhesa. Menurutnya “Ketika Rangkai mengajak saya untuk mengisi vokal untuk lagu Selam Hati Sulam Diri, tentu saja saya langsung menyanggupi karena sudah mendengar materi albumnya yang konseptual.
Proses rekamannya juga menyenangkan karena saya diberi kebebasan untuk improvisasi mencari nada dalam merespon melodi vokal Bimo. Lagu ini memiliki kesan tersendiri di hati saya karena lirik dan bunyi Rangkai yang menarik.”
Nomor-nomor track dalam album ini disusun berdasarkan 6 masa penciptaan di Al-Quran, yaitu:
1. ledakan pertama dan munculnya cahaya (“Api”, “Kejora Cinta”),
2. Jagad mengembang (“Ruang”, “Seperti Rindu”, “Mesra Tanpa Kata”),
3. Unsur alam mulai menemukan bentuknya (“Isyarat Hawa”, “Puan Kau Beri Nyawa”),


