Jessyca mulai mengenal olahraga anggar sejak duduk di bangku kelas 6 sekolah dasar. Ketertarikannya muncul secara spontan saat ia diajak guru olahraga di sekolahnya untuk mengikuti pelatihan dasar anggar.
“Pertama kali saya bermain anggar adalah saat kelas 6 SD. Waktu itu saya diajak guru olahraga ikut pelatihan. Karena saya memang sudah tertarik dengan olahraga sejak kecil, saya langsung mau ikut,” kenang Jessyca.
Semangat dan dedikasinya yang tinggi membuat Jessyca terus berkembang pesat dalam olahraga yang menuntut konsentrasi, kecepatan, dan ketangkasan tersebut.
Dalam waktu relatif singkat, ia berhasil menembus level nasional dan kini siap bersaing di tingkat Asia.
Pelatih Tim Nasional Anggar Indonesia, yang turut memantau perkembangan Jessyca sejak Kejurnas 2024, menyebut bahwa keputusan membawa Jess ke ajang senior Asia bukan tanpa pertimbangan.
“Jessyca memiliki potensi luar biasa. Usianya masih sangat muda, tetapi teknik, semangat juang, dan daya tahan fisiknya sudah setara dengan atlet senior,” ujar pelatih nasional, yang meminta namanya tidak disebutkan.
Kehadiran Jessyca dalam skuad Merah Putih juga menunjukkan keseriusan Pengurus Besar Ikatan Anggar Seluruh Indonesia (PB IKASI) dalam melakukan regenerasi atlet.
PB IKASI berharap keberadaan atlet muda seperti Jessyca bisa memberi warna baru sekaligus menjadi investasi jangka panjang bagi masa depan anggar nasional.
Kejuaraan Anggar Senior Asia 2025 di Bali sendiri akan menjadi ajang pembuktian kekuatan anggar Indonesia di level regional.


