“Kolaborasi ini diharapkan dapat menghadirkan ekosistem usaha koperasi yang produktif, modern, dan berdaya saing global,” imbuh David Bastian.
Sementara itu, salah satu narasumber, Direktur Hilirisasi Hasil Perkebunan, Direktorat Jenderal Perkebunan Kementerian Pertanian Kuntoro Boga Andri menyebutkan, terdapat lokasi pengembangan hilirisasi tahun 2025-2026 dengan komoditi kopi seluas 20.400 hektar di enam kabupaten serta pembangunan lima piloting pabrik kopi dan komoditi kakao seluas 8.900 hektar tujuh kabupaten.
Dalam mendukung program tersebut, Kemenkop akan berkerja sama dengan Kementerian Pertanian untuk mendorong koperasi dalam berkontribusi memperkuat rantai pasok di lima pabrik piloting tersebut.
Di sisi lain, peluang pasar Energi Baru Terbarukan (EBT) di Aceh juga tumbuh. Menurut Badan Pusat Statistik (BPS), luas kawasan hutan Aceh tahun 2023 tercatat sekitar 1,78 juta hektar dari sisi pasokan bahan baku.
Sedangkan produksi kayu bulat Aceh pada tahun 2023 mencapai kurang lebih 22.047 meter persegi.
Terlebih lagi, PT PLN (Persero) sedang merealisasikan pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Biomassa (PLTBm), dimana dibutuhkan pemanfaatan bahan baku biomassa seperti cangkang sawit, sekam padi, dan serpihan kayu.
Hal ini menunjukkan bahwa pasar serapan biomassa nyata dan berkembang. Kopdes Merah Putih dapat mengambil peran sebagai agregator bahan baku dan pengelola unit pra-olah biomassa.
Di Aceh, nilam merupakan salah satu komoditas unggulan yang telah lama dibudidayakan di Aceh sejak masa kolonial Belanda.


