DDP menggabungkan pendekatan mikro spasial dengan dukungan teknologi drone, kecerdasan buatan (AI), dan enumerator dari kalangan pemuda desa. Data yang dikumpulkan tidak hanya mencakup objek fisik seperti bangunan, tetapi juga subjek sosial seperti dinamika penduduk desa.
“Kami kembangkan sistem pendataan berbasis aplikasi yang hanya bisa diisi oleh enumerator saat benar-benar berada di lokasi. Semua data dikontrol dan diawasi, dikombinasikan dalam satu server yang memuat data spasial dan numerik,” terang Sofyan.
Hingga saat ini, DDP telah diterapkan di 16 provinsi, 38 kabupaten/kota, dan mencakup 1.239 desa. Semua proses dilakukan secara ilmiah, partisipatif, dan dikawal oleh akademisi untuk memastikan akurasi dan keberlanjutan data.


