LONDON, TERMINALNEWS.CO – Mengelola keuangan klub sepak bola bukan perkara mudah, terlebih di Premier League yang dikenal sebagai liga paling populer dan kompetitif di dunia.
Bagi klub-klub promosi dari Championship, suntikan dana besar sering kali menjadi penentu apakah mereka mampu bertahan di kasta tertinggi sepak bola Inggris.
Namun, seberapa besar sebenarnya keuntungan dan kerugian klub-klub Premier League sejak kompetisi ini resmi bergulir pada 1992?
Pakar finansial sepak bola, Kieran Maguire, mengungkapkan bahwa sejak era Premier League dimulai, total kerugian klub-klub mencapai hampir £4,99 miliar atau sekitar Rp99,8 triliun. Menariknya, 10 klub saja bertanggung jawab atas 90 persen dari total kerugian tersebut, termasuk Chelsea dan Aston Villa.
Tidak semua klub mengalami boncos. Sejumlah tim justru mampu mencatatkan keuntungan finansial selama tampil di Premier League.
Swindon Town dan Oldham Athletic, yang kini bermain di League Two, masing-masing membukukan keuntungan sekitar £0,1 juta atau Rp2 miliar. Barnsley menyusul dengan laba Rp14 miliar.
Ipswich Town, yang sempat terdegradasi pada akhir musim 2024/25, sejauh ini masih mencatat keuntungan £1,3 juta (Rp26 miliar). Birmingham City bahkan menambah pemasukan hingga Rp112 miliar, meski kini bermain di Championship dan berencana membangun stadion baru bernilai fantastis.
Liverpool menjadi salah satu klub elite yang tetap untung. Meski belanja pemain mereka tak segila rival-rivalnya, The Reds mencatat laba £12 juta atau Rp240 miliar sejak 1992.
Namun, dua klub London Utara menjadi yang paling sukses secara finansial. Arsenal membukukan keuntungan sekitar Rp2,65 triliun, sementara Tottenham Hotspur menjadi yang tertinggi dengan laba mencapai Rp3,66 triliun.


