Belum lagi, dengan tekanan sosial dan tradisi yang turut membuat Fadly kian tersudut. Sementara, kedua saudaranya dengan pasangannya, yang sudah lebih siap ikut kegantung pernikahannya, membuat situasi menjadi semakin rumit.
Produser Chand Parwez Servia mengungkapkan film Jodoh 3 Bujang akan memberikan perspektif baru yang memperkaya perfilman Indonesia dengan menghadirkan latar budaya Bugis-Makassar, dalam dinamika permasalahan yang banyak dihadapi oleh anak muda saat ini, yaitu tentang mencari jodoh.
Di Indonesia sendiri, menurut data Statista, ada 4,6 juta pengguna dating app pada tahun 2024, sebuah data yang juga dicerminkan di film ini melalui perjuangan Fadly.
“Starvision selalu ingin hadirkan perspektif baru dalam sinema Indonesia. Cerita
yang kami bawa tak hanya berpusat di Jakarta, namun juga membawa cerita-cerita yang unik dan kuat dari berbagai wilayah di Indonesia. Setelah berhasil membuat penonton Indonesia memiliki kedekatan dengan Komang, yang berlatar budaya Buton dan Bali, kali ini lewat Jodoh 3 Bujang kami ingin menyoroti kisah komedi romantis dengan irisan isu cinta beda status sosial dengan latar budaya Bugis-Makassar. Semoga penonton bisa mengambil pelajaran berharga dari yang dialami oleh para karakter di film ini,” kata produser Jodoh 3 Bujang Chand Parwez Servia.
Produser Futih Aljihadi dari Rhaya Flicks menambahkan, salah satu alasan terlibat dalam produksi film ini karena ia meyakini Starvision memiliki rekam jejak yang kuat dalam mengolah cerita-cerita yang punya kelekatan dengan kelokalan.


