JAKARTA,TERMINALNEWS.CO — Idulfitri kerap dimaknai sebagai titik kembali kembali suci, kembali pada fitrah. Namun di sebuah pagi yang hangat di Jakarta, makna itu terasa meluas, melampaui batas-batas spiritual menuju ruang sosial yang lebih inklusif dan menyatukan.
Di rumah dinas Nasaruddin Umar, sebuah open house sederhana justru menghadirkan wajah Indonesia yang utuh. Tokoh lintas agama, termasuk Ignatius Kardinal Suharyo, perwakilan organisasi keagamaan, hingga para duta besar dari berbagai negara, duduk dalam satu ruang tanpa sekat yang kaku.
Tak ada protokol yang berjarak. Yang terasa justru kehangatan yang mengalir alami. Satu per satu tamu disambut dengan jabat tangan, gestur sederhana yang menyimpan makna mendalam: bahwa di hari kemenangan ini, setiap orang hadir sebagai manusia setara, tanpa label, tanpa sekat identitas.
Di sela hidangan khas Lebaran, percakapan ringan terjalin. Ketika sang Menteri memperkenalkan kuliner Nusantara kepada para tamu internasional dan mengajak mereka duduk bersama, yang tercipta bukan sekadar jamuan, melainkan ruang dialog yang cair. Di meja makan yang sama, perbedaan latar belakang melebur menjadi pengalaman bersama yang hangat.
Di situlah Lebaran menemukan relevansi sosialnya. Ia tidak lagi hanya menjadi perayaan internal umat, tetapi menjelma sebagai jembatan empati. Memaafkan meluas maknanya tidak hanya antarindividu, tetapi juga sebagai kesediaan memahami yang berbeda, merawat kebersamaan, dan menjaga harmoni dalam kehidupan bersama.
Apa yang tergambar dari pertemuan itu menegaskan satu hal: kohesi sosial tidak lahir dari keseragaman, melainkan dari perjumpaan yang terus dihidupkan. Toleransi bukan sekadar konsep besar, melainkan praktik sehari-hari dari sapaan, senyum, hingga kesediaan duduk dalam satu meja.


