Menurutnya, saat ini regulasi kompetisi di Asia sudah tidak lagi membatasi jumlah pemain asing secara ketat.
Hal ini menjadi dasar bagi PT LIB untuk menyusun proposal strategis jangka menengah terkait kuota pemain asing, yang dirancang untuk tiga musim ke depan.
Proposal tersebut akan segera disampaikan kepada Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia (PSSI), dan diharapkan mendapat keputusan final sebelum akhir Mei 2025.
“Saya belum bisa memberikan jawaban pasti. Tapi rasanya semua keputusan ini ada di tangan PSSI,” imbuh Ferry.
Di tengah upaya peningkatan kualitas kompetisi, Ferry tak menampik bahwa Liga 1 Indonesia masih tertinggal dibandingkan liga-liga di negara lain di kawasan Asia.
Berdasarkan peringkat koefisien liga dari Konfederasi Sepak Bola Asia (AFC), Liga 1 saat ini duduk di posisi ke-25.
Posisi ini menempatkan Indonesia di bawah negara-negara seperti India, Tajikistan, bahkan Hong Kong.
Koefisien AFC mengukur performa klub-klub dari masing-masing negara di kompetisi antar-klub Asia dalam beberapa musim terakhir.
Peringkat ini menjadi tolok ukur penting dalam penentuan jatah dan status klub di kompetisi seperti AFC Champions League Elite dan AFC Champions League 2.
Untuk meningkatkan peringkat ini, klub-klub Indonesia dituntut tampil lebih konsisten dan kompetitif di level Asia.
Hal ini pula yang mendorong PT LIB mengajukan kebijakan yang memungkinkan klub merekrut lebih banyak pemain asing berkualitas.
Sebelumnya, Ketua Umum PSSI Erick Thohir telah menetapkan target ambisius untuk Liga 1 Indonesia.


