ROMA, TERMINALNEWS.CO – Pelatih SS Lazio, Maurizio Sarri menilai anak asuhnya seharusnya bisa meraih kemenangan atas Atalanta BC jika para suporter hadir langsung di stadion, bukan melakukan aksi protes di luar arena.
Lazio harus puas bermain imbang 2-2 melawan Atalanta pada leg pertama semifinal Coppa Italia yang digelar di Stadio Olimpico, Roma, Rabu (4/3/2026) waktu setempat.
Biancocelesti sempat dua kali unggul dalam pertandingan tersebut. Gol pertama dicetak oleh Fisayo Dele-Bashiru melalui penyelesaian chip yang indah. Keunggulan Lazio kemudian bertambah lewat Boulaye Dia yang memanfaatkan kesalahan pemain Atalanta, Mario Pašalić.
Namun, Atalanta mampu menyamakan kedudukan dengan cepat di kedua kesempatan tersebut. Pašalić menebus kesalahannya dengan mencetak gol balasan, sementara gol penyeimbang kedua dicetak Yunus Musah pada fase akhir pertandingan.
Sarri mengaku cukup puas dengan performa timnya, meskipun hasil akhir tidak sesuai harapan.

“Kami puas dengan penampilan tim karena bermain di level tinggi melawan tim kuat dalam periode yang cukup sulit,” kata Maurizio Sarri kepada Sport Mediaset.
“Namun di sisi lain, kami menyesali hasilnya. Meski begitu, kami tahu pertandingan di Bergamo nanti juga akan menjadi pertarungan berat, bahkan jika kami datang dengan keunggulan satu gol.”
Leg kedua semifinal Coppa Italia akan berlangsung di markas Atalanta di Bergamo pada 21 atau 22 April 2026. Pemenang duel ini akan menghadapi salah satu dari Inter Milan atau Como 1907 di final.
“Kami akan pergi ke sana untuk bertarung demi lolos ke final. Jika bermain seperti malam ini, kami punya peluang untuk melakukannya,” tambah Sarri.
Atmosfer pertandingan di Stadio Olimpico terasa tidak biasa. Stadion yang biasanya penuh hanya menjual sekitar 5.000 tiket. Banyak suporter Lazio memilih memboikot pertandingan sebagai bentuk protes terhadap presiden klub, Claudio Lotito.
Meski tidak masuk stadion, para fans tetap berkumpul di luar arena, bernyanyi dan menyalakan kembang api.
Sarri mengakui situasi ini tidak membantu tim.
“Sayangnya, tim mulai terbiasa dengan situasi seperti ini di stadion. Ini menyedihkan. Malam ini kami benar-benar merasa bahwa jika ada 45.000 suporter di tribun, mungkin kami bisa membawa pulang kemenangan,” ujar Sarri.
Dalam laga tersebut, Daniel Maldini dimainkan sebagai false nine dan beberapa kali turun ke lini tengah untuk membuka ruang. Ia juga memberikan assist untuk gol Dele-Bashiru.
Sarri memuji kecepatan Dele-Bashiru yang bisa mencapai 35 km/jam saat berlari, membuatnya berbahaya ketika melakukan penetrasi dari tengah. Ia juga membandingkan karakter pemain tersebut dengan Kenneth Taylor yang lebih kuat dalam penguasaan bola namun tidak secepat Dele-Bashiru.
Meski demikian, Sarri menilai Lazio masih membutuhkan penyerang yang lebih produktif.
“Untuk lebih konsisten, kami butuh striker yang bisa menjamin lebih banyak gol. Musim ini kami kekurangan itu karena berbagai alasan,” kata Sarri.
Ia juga menyoroti masalah cedera yang membuat timnya kerap kehilangan enam hingga tujuh pemain sekaligus, sehingga skuad dinilai perlu diseimbangkan kembali di masa depan.
Hasil imbang ini membuat peluang kedua tim masih terbuka lebar jelang leg kedua semifinal Coppa Italia di Bergamo.


