“Saya melihat ibu-ibu di wilayah paling timur Indonesia menggalang bantuan dan memanjatkan doa untuk saudara-saudara mereka di ujung barat Indonesia yang sedang tertimpa bencana. Itulah wajah sejati Indonesia,” tuturnya. Menurutnya, semangat gotong royong seperti itu mampu mempercepat proses pemulihan pascabencana.
Nilai persaudaraan antarumat beragama, lanjut Menag, juga diwujudkan melalui pembangunan Terowongan Silaturahmi yang menghubungkan Masjid Istiqlal dan Gereja Katedral Jakarta. Infrastruktur tersebut menjadi simbol bahwa tidak seharusnya ada sekat di antara pemeluk agama.
Menutup sambutannya, Menteri Agama menegaskan bahwa persaudaraan baik melalui peran rumah ibadah maupun solidaritas sosial harus berlandaskan rasa cinta. Oleh karena itu, Kementerian Agama terus mengembangkan Kurikulum Berbasis Cinta dan Ekoteologi sebagai bagian dari penguatan moderasi beragama.
“Inti dari semua agama adalah cinta. Jika ada ajaran yang menumbuhkan kebencian, maka hal itu sejatinya bertentangan dengan nilai agama itu sendiri,” pungkasnya.


