Menurut dr. Insan, hujan kini menjadi pemicu ketakutan utama bagi sebagian besar penyintas. Trauma terhadap bencana membuat suara rintik hujan tak lagi menenangkan, melainkan menghadirkan kembali ingatan akan kepanikan.
“Hampir semua penyintas yang kami temui mengaku takut saat hujan turun. Pendampingan ini kami lakukan agar ketakutan itu tidak berkembang menjadi trauma jangka panjang,” katanya.
Di balik komitmen tersebut, tantangan di lapangan tak sedikit. Akses menuju beberapa posko pengungsian tergolong sulit, bahkan mengharuskan tim menyeberangi sungai dan melewati medan berat. Keterbatasan jumlah tenaga kesehatan jiwa di Kabupaten Bener Meriah juga menjadi kendala, sehingga pelayanan harus dilakukan secara bergilir dan terjadwal.
Meski demikian, semangat tim Mobile Clinic tak surut. Dengan sumber daya yang ada, mereka terus berupaya hadir menyapa, mendengar, dan mendampingi sebagai pengingat bahwa pemulihan pascabencana bukan hanya soal membangun kembali fisik, tetapi juga menenangkan jiwa yang sempat terguncang.
Di tengah sisa-sisa lumpur dan kenangan pahit bencana, Mobile Clinic ini menjadi simbol harapan: bahwa luka batin pun layak dirawat, dan rasa aman bisa tumbuh kembali, perlahan namun pasti.[]Sumber KemenkesRI


