Salah satu pengalaman paling menarik adalah instalasi studio rekaman tempat pengunjung bisa “masuk” ke ruang di mana suara direkam, diolah, dan diberi nyawa.
Dirancang oleh .this/PLAY Studio, pameran ini dibuat sebagai ekshibisi yang terus bertumbuh. Konten dan pendekatan presentasi akan berkembang seiring waktu, membuat setiap kunjungan terasa berbeda. Datang sekali tidak cukup karena pameran ini memang hidup.
Musikal, Ingatan, dan Generasi Baru
Eksplorasi musik Miles Films juga tak bisa dilepaskan dari film musikal. Petualangan Sherina membuka kembali ruang musikal anak, disusul Untuk Rena, hingga Rangga & Cinta yang memperkenalkan musikal romansa remaja dengan bahasa generasi sekarang. Lewat nyanyian, tarian, dan ekspresi tubuh, musik menjadi alat bercerita yang utuh bukan gimmick.
Lokananta, Rumah yang Tepat

Dipilihnya Lokananta sebagai lokasi pameran bukan tanpa alasan. Sebagai cagar budaya musik Indonesia, Lokananta memberi konteks sejarah yang kuat menempatkan karya Miles Films dalam lintasan panjang musik dan sinema nasional.
“Ini kehormatan besar bagi Lokananta,” ujar Wendi Putranto, CEO Lokananta. “Miles Films adalah zeitgeist perfilman Indonesia. Pameran ini mengajak kita mendengar kembali, memahami ulang, dan merayakan jejak kreatif yang membentuk budaya populer kita.”
Produser Mira Lesmana pun berharap pengunjung bisa merasakan proses panjang di balik pencarian musik film. “Prosesnya menantang, penuh eksperimen, tapi selalu menyenangkan,” ujarnya. “Semoga publik bisa menangkap semangat itu.”tambahnya.


