MaiA dapat diakses melalui portal resmi pariwisata Indonesia dan dirancang untuk mendampingi wisatawan sepanjang perjalanan mereka, mulai dari tahap mencari inspirasi, menyusun rencana perjalanan, melakukan pemesanan, menikmati pengalaman wisata, hingga membagikan pengalaman tersebut kepada orang lain.
Menurut Ni Made Ayu Marthini, pemanfaatan AI menjadi fondasi baru dalam membangun pengalaman wisata yang lebih personal, efisien, dan berbasis data. Kehadiran MaiA juga sejalan dengan program Tourism 5.0 yang mendorong digitalisasi untuk menjangkau pasar wisatawan secara lebih tepat sasaran.
Tak hanya membantu wisatawan, MaiA juga menjadi instrumen penting bagi pemerintah dalam membaca perilaku pasar. Dalam tujuh bulan sejak diluncurkan pada November 2025, platform tersebut telah menghasilkan berbagai data yang memberikan gambaran lebih rinci dibandingkan metode survei konvensional.
Berdasarkan data yang dihimpun, sekitar 60 persen pengguna MaiA berasal dari pasar domestik, sementara 40 persen lainnya berasal dari wisatawan mancanegara. Pengguna internasional didominasi oleh wisatawan dari Tiongkok, Singapura, dan Jerman. Informasi ini membantu pemerintah memahami preferensi destinasi, aktivitas favorit wisatawan, hingga jenis pengalaman yang paling banyak dicari.
Namun, perkembangan teknologi ternyata menghadirkan tantangan baru. Apni Jaya Putra menjelaskan bahwa masyarakat kini hidup dalam ekosistem digital yang dikendalikan oleh big data dan algoritma. Setiap aktivitas online, mulai dari pencarian hingga interaksi di media sosial, akan membentuk profil pengguna yang kemudian digunakan untuk menentukan konten apa yang ditampilkan kepada mereka.



