“Ini bukan solusi, tapi blunder. Justru upaya ini bisa menghancurkan sistem pembinaan yang sudah berjalan,” tambahnya dengan nada kecewa.
Peter menyatakan bahwa pihaknya akan segera menyampaikan keberatan dan keresahan organisasi kepada KOI sebagai otoritas nasional olahraga. Ia mempertanyakan sejauh mana KOI mampu menengahi dan menyelesaikan polemik ini.
“Kita akan sampaikan langsung ke KOI. Kami ingin tahu, apakah NOC bisa bersikap tegas dalam situasi seperti ini? Jangan sampai keberadaan mereka justru menambah kerumitan,” tegasnya.
Meskipun menyoroti berbagai kejanggalan, Peter memastikan bahwa PB PTMSI akan tetap menjaga sikap profesional dan menjunjung komunikasi yang santun.
Namun ia menekankan bahwa komitmen terhadap pembinaan atlet tidak akan pernah dikompromikan.
“Selama saya menjabat dan SK saya masih berlaku, saya akan terus melaksanakan pembinaan. Ini amanat dari teman-teman Pengprov,” katanya.
Kisruh dalam tubuh tenis meja Indonesia ini menambah panjang daftar konflik organisasi olahraga di Tanah Air.
PB PTMSI menegaskan bahwa perjuangan mereka bukan sekadar mempertahankan eksistensi organisasi, tetapi untuk menjaga marwah olahraga nasional dan memastikan keberlanjutan pembinaan atlet.
Peter Layardi Lay mengingatkan bahwa jika konflik ini tidak segera diselesaikan secara tuntas dan adil, yang paling dirugikan adalah para atlet muda yang tengah dibina untuk meraih prestasi.
Ia mendesak pemerintah dan seluruh pemangku kepentingan untuk segera mengambil langkah konkret, sebelum konflik ini menimbulkan dampak yang lebih besar bagi olahraga nasional.


