“Tidak sama sekali. Ini perang. Kita sedang berperang,” ujar Trump dalam wawancara dengan NBC News.
Trump juga belum memberikan kepastian langkah yang akan diambil jika awak pesawat yang hilang mengalami bahaya. “Kami berharap itu tidak terjadi,” katanya.
Israel Siap Perpanjang Operasi Militer
Sementara itu, laporan dari penyiar publik Israel, Kan, menyebutkan bahwa Israel siap melanjutkan perang setidaknya dua pekan ke depan, bahkan berpotensi lebih lama dari proyeksi Gedung Putih.
Pejabat Israel menyebutkan bahwa persiapan juga dilakukan untuk menghadapi peringatan hari-hari besar nasional di tengah situasi perang, termasuk Hari Peringatan Holocaust dan Hari Kemerdekaan.
Sebagai latar belakang, Amerika Serikat dan Israel memulai kampanye pemboman terhadap Iran sejak 28 Februari dengan tujuan melemahkan rezim serta menghancurkan program nuklir dan rudal balistik negara tersebut.
Selat Hormuz Jadi Kartu Tekanan Iran
Di sisi lain, laporan intelijen AS memperingatkan bahwa Iran kemungkinan besar tidak akan membuka kembali Strait of Hormuz dalam waktu dekat. Selat strategis ini merupakan jalur vital bagi sekitar 20% perdagangan minyak dunia.
Penguasaan Iran atas jalur tersebut dinilai sebagai satu-satunya leverage utama terhadap Washington. Dengan mempertahankan kendali, Teheran dapat menjaga harga energi tetap tinggi dan menekan AS untuk segera mengakhiri perang.
Presiden Trump sempat menyatakan optimisme bahwa AS dapat membuka kembali jalur tersebut.
“Dengan sedikit waktu, kita bisa dengan mudah membuka Selat Hormuz, mengambil minyak, dan meraih keuntungan besar,” tulisnya di platform Truth Social.
Namun, para analis memperingatkan bahwa penggunaan kekuatan militer untuk membuka selat berisiko besar dan dapat menyeret AS ke perang darat berkepanjangan.
Direktur Proyek Iran di International Crisis Group, Ali Vaez, menilai situasi ini justru memberi Iran kekuatan baru.


