tetapi tombak keadilan yang dibungkus keindahan.
Taufiq tidak berteriak, namun kata-katanya mengguncang.
Ia tidak mencaci, namun sindirannya membuat penguasa terbiak.
Ia tidak menghasut, tapi menyindir dengan akhlak
yang membuat musuhnya pun segan.
Sajadah Panjang bukan sekadar doa, Ia adalah tangis bangsa yang tak pandai lagi menangis.
Tuhan, kami terlalu banyak dosa, adalah jerit seisi negeri yang tak mampu lagi membedakan
antara kemajuan dan kesesatan yang berkilau.
Setelah membacakan kedua puisi yang ia tulis sendiri, Menteri Agama pun menutup persembahan dengan membacakan puisi legendaris karya Taufiq Ismail: Sajadah Panjang. Ia membacakannya pelan, penuh penghayatan, seolah ingin mengembalikan gema nurani yang telah lama teredam di telinga bangsa.
Ada sajadah panjang terbentang
Dari kaki buaian
Sampai ke tepi kuburan hamba
Kuburan hamba bila mati
Ada sajadah panjang terbentang
Hamba tunduk dan sujud
Di atas sajadah yang panjang ini
Diselingi sekedar interupsi| Sumber Kemenag RI Foto : Istimewa


