Implementasi pengumpulan minyak jelantah akan dijalankan oleh Pertamina Patra Niaga melalui mesin pengumpulan UCollect.
Minyak jelantah yang terkumpul nantinya akan dimanfaatkan sebagai bahan baku produksi Sustainable Aviation Fuel (SAF), Hydrotreated Vegetable Oil (HVO), dan biogasoline.
Direktur Transformasi dan Keberlanjutan Bisnis Pertamina, Agung Wicaksono, mengatakan kerja sama ini menjadi bagian dari strategi jangka panjang perusahaan dalam memperkuat bisnis rendah karbon.
Menurut Agung, minyak jelantah merupakan salah satu bahan baku paling efisien untuk menghasilkan SAF dan HVO karena memiliki profil emisi siklus hidup yang rendah.
“Melalui penahapan yang terukur, Pertamina menargetkan pencampuran SAF mulai dari 1 persen hingga 5 persen pada 2030 sesuai amanat pemerintah,” kata Agung.
Program ini mendukung tiga agenda strategis nasional, yakni ketahanan pangan, ketahanan energi, dan hilirisasi industri. Selain itu, kerja sama tersebut diharapkan mempercepat pengembangan energi baru terbarukan berbasis sumber daya domestik yang berkelanjutan.
Penandatanganan nota kesepahaman dilakukan di Grha Pertamina, Jakarta, Kamis (7/5/2026), dan turut dihadiri Komisaris Utama Pertamina Mochamad Iriawan serta Direktur Utama Pertamina Patra Niaga Mars Ega Legowo Putra.[*]


