Pelatih PNFC, Didik Purwono, menyatakan bahwa kegiatan ini telah menyambangi setidaknya 10 pesantren modern di Pulau Jawa, antara lain Ponpes Modern Gontor (Ponorogo), Darussalam Raja Pola (Tasikmalaya), La Tanza (Banten), dan Al Madina (Majalengka).

“Kunjungan kami tidak hanya fokus pada pelatihan teknik sepak bola. Kami juga berbagi ilmu lain seperti pelatihan memasak, dasar-dasar kesehatan, dan pemahaman praktis tentang listrik. Ini karena santri masa kini perlu memiliki bekal keterampilan yang luas,” kata Didik.
Ia menambahkan bahwa keberadaan lapangan sepak bola di lingkungan pesantren kini semakin dibutuhkan, terlebih dengan adanya kompetisi resmi seperti Liga Santri Nusantara yang difasilitasi oleh pemerintah.
“Liga Santri Nusantara telah membuka ruang bagi santri untuk berkembang di bidang olahraga. Maka, penting bagi setiap ponpes untuk memiliki lapangan dan program pembinaan olahraga. PNFC hadir untuk membantu mendorong itu,” ujar Didik.
Lebih jauh, Didik menekankan bahwa PNFC hadir bukan semata-mata sebagai komunitas olahraga, tetapi juga sebagai penggerak nilai-nilai kebersamaan dan spiritualitas dalam bentuk kekinian.

“Silaturahmi itu juga ibadah. Dan kami ingin menjadikan sepak bola sebagai media untuk mempererat ukhuwah Islamiyah dan membentuk akhlak yang baik. Ini misi kami sejak awal berdiri pada 2018,” ujarnya.
Zainal Arifin, kapten tim sekaligus salah satu anggota senior PNFC, turut menyuarakan dukungannya terhadap program tersebut. Ia berharap gerakan sosial yang dilakukan PNFC dapat menjangkau lebih luas ke luar Pulau Jawa.


