Bahkan, ketika program mencapai cakupan penuh dengan puluhan juta penerima manfaat, dampak ekonomi yang dihasilkan diperkirakan akan semakin luas dan mampu mendorong pertumbuhan ekonomi berbasis kerakyatan.
Dalam kesempatan yang sama, Menteri Ekonomi Kreatif Teuku Riefky Harsya menyatakan bahwa MBG menjadi contoh bagaimana program sosial dapat berjalan beriringan dengan penguatan ekonomi masyarakat.
Menurutnya, kehadiran dapur-dapur MBG menciptakan permintaan yang berkelanjutan terhadap produk dan jasa lokal, sehingga memberi ruang kolaborasi bagi petani, UMKM, penyedia jasa, hingga berbagai usaha daerah.
“Program MBG tidak hanya berinvestasi pada kualitas generasi masa depan, tetapi juga menciptakan aktivitas ekonomi yang melibatkan masyarakat di berbagai daerah,” kata Riefky.
Sementara itu, Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Nanik S. Deyang menegaskan bahwa Presiden memberikan arahan khusus agar seluruh pelaksana program menjaga kualitas makanan yang disajikan kepada para penerima manfaat.
Menurut Nanik, MBG bukan hanya intervensi gizi, tetapi juga instrumen untuk menghidupkan ekonomi masyarakat di daerah melalui rantai pasok yang produktif dan berkelanjutan.
Kegiatan tersebut dihadiri lebih dari 12 ribu peserta yang terdiri dari koordinator regional Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG), kepala SPPG, mitra pelaksana MBG, serta sejumlah menteri dan pejabat Kabinet Merah Putih.|Sumber Kemenekraf RI


