Selain revitalisasi museum, Pemprov DKI juga menyiapkan sejumlah langkah konkret untuk memperkuat tradisi dan nilai kebudayaan Betawi. Di antaranya penyelenggaraan Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ) secara berjenjang mulai tingkat RT/RW hingga provinsi, pelaksanaan Haul Ulama Betawi dalam rangkaian HUT DKI Jakarta di Monas, serta penataan pertunjukan ondel-ondel agar tampil di panggung resmi dan representatif, bukan lagi di pinggir jalan.
Pramono menilai silaturahmi di Masjid Jami Tangkuban Perahu menjadi momentum penting untuk menumbuhkan nilai keagamaan sekaligus mempererat kebersamaan warga Betawi.
“Betawi sebagai akar budayanya. Maka peran Majelis Kaum Betawi sangat strategis dalam menjaga warisan nilai seiring transformasi Jakarta sebagai kota global yang tetap berpijak pada fondasi budaya dan moral yang kokoh,” ucapnya.
Ia berharap Majelis Kaum Betawi terus menjadi mitra strategis pemerintah dalam menjaga moralitas sosial serta membina generasi muda agar tetap berakar pada nilai-nilai Betawi. Pemprov DKI, lanjutnya, berkomitmen memperluas ruang bagi kegiatan keagamaan dan kebudayaan guna menciptakan Jakarta yang hangat dan harmonis.
“Sebagai gubernur, harapan, keinginan, doa saya, semoga Majelis Kaum Betawi ini menjadi satu budaya yang rukun, guyub, dan berperan signifikan bagi kemajuan kaum Betawi. Saya ingin tradisi Betawi ini bisa dipanggungkan ke panggung-panggung dunia,” pungkasnya.|Sumber Dinas Kominfotik


