OLEH: Toni Tobing
KETIKA nilai tukar rupiah melemah terhadap dolar Amerika Serikat, sebagian orang masih beranggapan bahwa persoalan tersebut hanya menjadi urusan bank sentral, pelaku pasar modal, atau mereka yang memiliki tabungan dalam mata uang asing. Anggapan itu keliru.
Rakyat kecil yang tidak pernah memegang dolar justru sering menjadi pihak yang paling dahulu merasakan dampaknya.
Mereka tidak membeli dolar, tetapi mereka membeli tahu, tempe, telur, mi instan, susu, LPG, obat-obatan, dan berbagai kebutuhan pokok lainnya. Ironisnya, banyak produk tersebut masih bergantung pada bahan baku impor.
Indonesia sampai hari ini masih mengimpor sebagian besar kebutuhan kedelai sebagai bahan baku tahu dan tempe. Gandum yang menjadi bahan dasar tepung terigu, mi instan, roti, dan berbagai produk pangan hampir seluruhnya berasal dari luar negeri. Bahan baku susu, bahan baku obat, LPG, hingga sebagian pakan ternak juga masih bergantung pada impor.
Akibatnya sederhana tetapi serius.
Ketika rupiah melemah, biaya impor meningkat. Ketika biaya impor meningkat, biaya produksi naik. Ketika biaya produksi naik, harga barang di pasar ikut naik. Dan ketika harga naik, daya beli masyarakat turun.
Rantai ini pada akhirnya berujung pada inflasi.
Dalam perspektif kepabeanan, fenomena ini menunjukkan bahwa persoalan kurs tidak dapat dipisahkan dari struktur perdagangan nasional. Ketergantungan yang tinggi terhadap impor bahan baku menjadikan ekonomi domestik sangat sensitif terhadap gejolak eksternal.
Masalahnya, yang paling rentan bukanlah kelompok yang memiliki cadangan aset dalam dolar, melainkan masyarakat berpendapatan rendah, pekerja sektor informal, buruh bergaji tetap, serta UMKM yang setiap hari berjuang mempertahankan usahanya.


