Aksi juga menjadi panggung bagi desakan agar aparat penegak hukum mengusut tuntas berbagai dugaan penyimpangan yang sebelumnya telah dilaporkan. Para seniman meminta proses hukum dilakukan secara terbuka agar tidak menimbulkan spekulasi yang semakin memperburuk kepercayaan publik terhadap sistem pengelolaan royalti nasional.
Momentum paling emosional terjadi ketika Ali Akbar membakar semangat massa dengan seruan yang langsung dijawab serempak oleh peserta aksi.
“Apa yang kita perjuangkan?” teriaknya.
“Royalti!” jawab massa.
“Itu hak ekonomi kita!”
Teriakan “Royalti hak kita!” dan “Bubarkan LMKN, kembalikan hak kami!” kemudian bergema berkali-kali di depan kantor Kementerian Hukum, menjadi simbol kekecewaan yang selama ini terpendam di kalangan pelaku industri musik.
Hingga aksi berlangsung, belum tampak perwakilan Kementerian Hukum yang menemui massa. Ketiadaan respons tersebut justru mempertegas satu pesan yang ingin disampaikan para demonstran: persoalan royalti bukan lagi sekadar keluhan segelintir musisi, melainkan tuntutan kolektif yang kini berubah menjadi gerakan terbuka untuk merebut kembali hak ekonomi para pencipta karya.


