
Ana bersama Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), berhasil mengekstrak daun, kulit buah, bunga, dan batang pohon menjadi pewarna alami batik. Batik Organik juga dibuat dengan kain dari serat alami kayu akasia, eucalyptus, katun, atau sutra eri.
Serat ini bersifat biodegradable sehingga mudah terurai dalam tanah dan lebih ramah lingkungan.
Lewat Batik Organik, Ana juga membantu memberdayakan perempuan Indonesia. Batiknya menjadi karya inklusif buatan 54 ibu pembatik dari Desa Cipaku, Bogor. Para ibu mendapat edukasi, kaderisasi, dan pelatihan membatik.
Keberhasilan Ana menciptakan batik ramah lingkungan tak lepas dari dukungan Kementerian UMKM. Dia mengikuti program Entrepreneur Development yang memberikan pembinaan berupa peningkatan kapasitas produksi dan mentoring bisnis.

Menurutnya, Kementerian UMKM telah berperan penting dalam menumbuhkan semangat berinovasi, meningkatkan reputasi baik dan penjualan Batik Organik. Ana juga mendapat perlindungan legalitas, perluasan akses pasar, serta kesempatan tampil ke publik.
“Kami bersyukur program ini berkelanjutan dan masih menjadi ekosistem bisnis pendukung dalam berjejaring dan berkolaborasi dengan pihak lain,” ujar Ana.
Saree Ulos dan Batik Organik menjadi contoh UMKM yang berhasil mengembangkan usahanya sekaligus mencintai lingkungan dan menyejahterakan bangsa Indonesia.


