JAKARTA,TERMINALNEWS.CO-| Perjalanan sepuluh tahun sebuah rumah produksi kerap menjadi titik jeda untuk menoleh, sebelum kembali melangkah lebih jauh. Bagi Palari Films, satu dekade bukan sekadar hitungan waktu, melainkan kumpulan cerita tentang keberanian memilih tema, ketekunan merawat gagasan, hingga kepercayaan pada talenta-talenta baru yang kini mulai menemukan panggungnya.
Didirikan oleh Meiske Taurisia, Muhammad Zaidy, dan sutradara Edwin, Palari Films mengawali langkahnya lewat Posesif film yang langsung menancapkan jejak kuat di Festival Film Indonesia 2017. Sejak itu, perjalanan mereka seperti pelayaran panjang yang tak selalu tenang, tetapi sarat arah.
Karya-karya berikutnya, seperti Aruna & Lidahnya, hingga pencapaian monumental lewat Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas yang meraih Golden Leopard di Locarno Film Festival, menjadi bukti bahwa film Indonesia mampu berbicara lantang di panggung dunia. Dari dapur kreatif yang sama, lahir pula karya populer seperti Ali & Ratu Ratu Queens yang menjangkau penonton global lewat platform digital.
Namun, ulang tahun ke-10 ini bukan tentang nostalgia semata. Palari Films memilih merayakannya dengan membuka lembar baru: memperkenalkan tujuh proyek film yang mencerminkan keberagaman suara dan pendekatan sinematik. Mulai dari Monster Pabrik Rambut yang kembali disutradarai Edwin, hingga eksplorasi personal dalam Desember Jani garapan Ariani Darmawan sebuah proyek all-women yang menandai kembalinya sang sineas setelah satu dekade.


