“Harapannya masyarakat dan para siswa memiliki daya tangkal, daya cegah, dan deteksi dalam melawan potensi intoleransi yang mengarah ke radikalisme dan tindak pidana terorisme,” harap Roedy.
Kegiatan hari pertama “Sekolah Damai” di SMA 3 Semarang ini diisi dengan Pelatihan Guru Dalam Rangka Menumbuhkan Ketahanan Satuan Pendidikan Dalam Menolak Paham Intoleransi, Kekerasan, dan Bullying.
Selain Deputi 1, hadir pada kegiatan ini Direktur Pencegahan BNPT RI Prof. Dr. Irfan Idris, MAg, Kakanwil Kemendikbudristek Dr. Uswatun Hasanah, S.Pd, M.Pd, Kepala Sekolah SMAN 3 Semarang Drs. Yuwana, M.Kom.
Narasumber menghadirkan Mohammad Abdullah Darraz, MA, M.Ud, (dosen Uhamka), Sri Puji Mulyo Siswanto (mitra deradikalisasi), dan Muslicha SPd, MPd (dosen program studi bimbingan dan konseling Pusat Kajian Konseling Pendidikan dan Komunitas Fakultas Ilmu Pendidikan dan Psikologi Unes).
Lebih lanjut Mayjen Roedy menguraikan bahwa pendidik mempunyai tugas besar dalam menyelamatkan generasi bangsa. Apalagi penyelenggaran kegiatan tepat pada peringatan Hari Kebangkitan Nasional dan masih dalam bulan yang sama dengan Hari Pendidikan Nasional.
“Guru adalah pahlawan tanpa tanda jasa. Berangkat dari hati nurani dan kesadaran, serta panggilan jiwa. Jangan pernah melupakan perah seorang guru yang luar biasa,” tuturnya.
Ia menjelaskan bahwa BNPT RI memiliki tujuh program prioritas di tahun 2024. Pertama perlindungan perempuan, anak, dan remaja, dari ancaman radikal terorisme. Berdasarkan penelitian, tingkat keterpaparan kaum perempuan, remaja, dan anak mencapai 70 persen.


