Lebih lanjut Marthunis mengungkapkan bahwa struktur yang ada di sekolah di Aceh sudah mempunyai tim pencegahan dan penanganan kekerasan di sekolah, walaupun tim ini perlu terus diperkuat dari sisi pemahaman dan aksinya.
“Kami pernah mendapat laporan adanya tindakan bullying di salah satu SMA. Ini merupakan tantangan bagi kita karena kasus bullying dan intoleransi semakin memuncak akibat arus informasi yang tinggi, tinggal kita sekarang bagaimana bisa mensiasati itu,” jelasnya.
l
Sekolah harus menjadi tempat yang memberikan kedamaian, sekolah harus sehat, sekolah harus mampu memberikan pengalaman bagi peserta didik dengan kedamaian, kebersihan lingkungan sehingga selama 3 tahun mereka bersama kita akan terbentuk karakter yang nantinya akan menjadi sumber daya saing bangsa menghadapi Indonesia Emas 2045.
“Anak didik kita sekaranglah yang akan menjadi pemimpin kita di masa mendatang, kalau tidak kita perbaiki, mereka akan menjadi anak-anak yang suka bullying, menggunakan kekuasaan,” tuturnya.
Di akhir sambutannya, Kepala Dinas Pendidikan Aceh berharap akan terbentuknya komitmen bersama dan deklarasi sekolah damai.
Seperti diketahui Kegiatan Sekolah Damai di SMKN 2 Banda Aceh hari pertama diikuti oleh 100 orang guru pengajar dan pada hari kedua diikuti 300 peserta didik.
Sekolah Damai di SMKN 2 Banda Aceh merupakan hasil kolaborasi BNPT RI, Duta Damai BNPT, dan Dinas Pendidikan Provinsi Aceh.


