Yang menarik, kegiatan Sahabat Lentique tidak hanya diikuti oleh relawan dari satu latar belakang saja. Banyak relawan dari berbagai agama dan profesi ikut terlibat dalam kegiatan sosial tersebut. Kebersamaan ini menjadi bukti bahwa semangat kemanusiaan dapat melampaui perbedaan.
“Tanpa Gaji dan Lintas Agama salah satu hal yang membanggakan dari komunitas ini adalah prinsip pro bono, tidak ada sepeser pun uang donasi yang digunakan untuk operasional panitia,” tegas Asti juga Evi Wiharjanti selaku Bendahara dan Humas dari Sahabat Lentique.
Bahkan, biaya survei hingga tiket pesawat saat membantu korban bencana di Palu, Lombok, hingga Bekasi, ditanggung menggunakan uang pribadi anggota. Tidak ada sepeser pun yang kita pakai. Kita tidak makan uang donasi sama sekali, murni diberikan kepada yang berhak,” ungkap Asti.

Dalam setiap kegiatan yang digelar, para relawan bekerja bersama dengan satu tujuan yang sama, yaitu membantu mereka yang membutuhkan. Kebersamaan tersebut juga menciptakan ruang dialog dan saling memahami antar sesama relawan.
Selama lebih dari satu dekade, Sahabat Lentique terus menjaga komitmen untuk tetap hadir di tengah masyarakat. Konsistensi ini menjadi kunci utama yang membuat komunitas tersebut tetap dipercaya oleh para donatur maupun relawan.
Memasuki tahun ke-13, Sahabat Lentique berharap semakin banyak pihak yang tergerak untuk ikut terlibat dalam gerakan sosial. Mereka percaya bahwa kepedulian, sekecil apa pun, akan selalu memiliki arti besar bagi mereka yang membutuhkan.


