Selain sistem, faktor kemauan individu menjadi pembeda utama. Patar mengaku sejak kecil sudah bercita-cita menjadi pemain tim nasional, dan hal itu ia kejar dengan disiplin tinggi, termasuk menambah porsi latihan secara mandiri di luar jadwal tim.
“Saya setiap hari latihan sendiri, bahkan siang hari tetap latihan. Itu karena kemauan untuk bisa masuk tim nasional sangat besar,” ungkapnya.
Ia kemudian membandingkan dengan kondisi sepak bola saat ini yang dinilai telah mengalami banyak perubahan, terutama dari sisi fasilitas. Menurutnya, fasilitas modern yang kini tersedia seharusnya menjadi keuntungan besar bagi pemain muda.
Namun demikian, ia menilai semangat dan daya juang pemain era sekarang tidak selalu sebanding dengan kemudahan yang ada.
“Sekarang fasilitas jauh lebih bagus, tapi dulu kami mengandalkan kemauan yang sangat tinggi. Itu yang membuat kami bisa bersaing,” ujarnya.
Berbekal pengalaman tersebut, Patar kini memandang Liga Jakarta 2026 sebagai momentum penting untuk menghidupkan kembali semangat kompetisi dan pembinaan pemain muda. Dalam perannya sebagai talent scout, ia akan fokus mencari pemain yang tidak hanya memiliki kemampuan teknis, tetapi juga mental dan etos kerja tinggi.
Menurutnya, kompetisi seperti Liga Jakarta harus menjadi wadah bagi pemain untuk menunjukkan kualitas secara konsisten, bukan sekadar tampil sesaat.
“Yang kita cari bukan hanya pemain bagus, tapi juga yang punya kemauan, disiplin, dan konsistensi. Itu yang dulu kami miliki,” tegasnya.
Ia juga menekankan pentingnya proses berjenjang, di mana pemain harus melalui tahapan kompetisi yang jelas sebelum mencapai level tertinggi. Liga Jakarta, kata dia, bisa menjadi salah satu jalur strategis menuju tim nasional jika dikelola dengan baik.

