“Kodok bermata putih itu penanda tempat suci, sementara cacing palu menyerap energi negatif agar harmoni tetap terjaga,” ujarnya.
Widya, yang sejak awal terdiam, akhirnya berbicara pelan,
“Di sini saya merasa alam berbicara lewat diamnya. Batu, langit, dan bintang seperti saling berbisik, mengingatkan kita agar tidak lupa pada keseimbangan.”
Malam itu, mereka tidak hanya menapaki gunung, tetapi juga menyusuri diri sendiri. Dalam keheningan Gunung Padang di Cianjur, mereka menemukan makna kehidupan yang dihadirkan Tuhan melalui harmonisasi alam — resonansi yang menyatukan bumi dan langit, seperti denyut waktu yang tak pernah padam.


