“Progres teknikal film animasi Pelangi di Mars kini berada di kisaran 10 persen tahap akhir, meliputi sound design, grading, animation visual effects (VFX), hingga beberapa revisi elemen,” kata Upie.
Bangun Kekuatan IP Lokal
Irene menekankan bahwa keberhasilan film animasi tidak hanya bertumpu pada produksi, tetapi juga pada model bisnis yang tepat. Menurut dia, pencipta IP harus berani memperluas cakupan karya melalui lisensi, kolaborasi merek, hingga pengembangan produk turunan yang memperkuat eksposur IP di pasar.
“Para pembuat animasi harus bergeser ke arah prioritas eksposur IP setelah melewati tantangan investasi di awal,” ujar Irene.
Upie mengakui bahwa sambutan positif terhadap karya studio sebelumnya, seperti Jumbo, memberikan dorongan kepercayaan diri bagi tim. Pertemuan dengan Wamen Ekraf pun dinilai membuka peluang baru dalam memperkuat langkah komersial studio.
“Dengan berbagai peluang yang ditawarkan, kami merasa berada di jalur yang tepat,” ujarnya.
Tentang Film
Pelangi di Mars menceritakan perjalanan Pelangi, manusia pertama yang lahir di Planet Mars dan tumbuh bersama robot-robot cerdas, seperti Batik, Kimchi, Petya, Sulil, dan Yoman. Mereka menjalankan misi mencari mineral ajaib Zeolit Omega yang diyakini mampu menyelamatkan Bumi.
Film ini direncanakan menjadi bagian dari universe Pelangi di Mars yang dikembangkan hingga tahun 2026.


