Selain aspek teknis, Taufik juga menilai kompetisi usia dini berperan dalam membentuk karakter anak. Melalui pertandingan yang terorganisasi dengan baik, peserta dapat belajar mengenai sportivitas, kerja sama tim, disiplin, serta mental bertanding, yang menjadi bekal penting bagi perkembangan atlet maupun kepribadian mereka.
Ia menegaskan bahwa Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora) mendorong terwujudnya sinergi lintas sektor dalam pembangunan olahraga nasional.
Menurutnya, kolaborasi antara pemerintah, dunia usaha, komunitas, dan federasi olahraga menjadi kunci utama dalam menciptakan sistem pembinaan yang kuat dan berkelanjutan.
“Kemenpora memandang kolaborasi antara pemerintah, dunia usaha, komunitas, dan federasi olahraga adalah kunci untuk membangun ekosistem olahraga nasional yang kuat dan berkelanjutan,” ujar Taufik.
Ia menyebut program olahraga yang melibatkan sektor swasta, seperti Milo National Championship, merupakan contoh sinergi positif yang patut didukung dan dikembangkan bersama.
Dengan dukungan berbagai pihak, pembinaan usia dini diharapkan dapat menjangkau lebih banyak daerah dan peserta.
Milo National Championship 2026 sendiri digelar dengan melibatkan lebih dari 10.000 peserta dari seluruh Indonesia.
Kejuaraan ini mempertandingkan dua kategori usia, yakni U-10 dan U-12, sebagai bagian dari upaya menjaring dan membina talenta muda sejak tahap awal.
Sebanyak 22 kota ambil bagian dalam ajang ini, mencerminkan luasnya jangkauan pembinaan sepak bola usia dini yang dilakukan.


