
Saat ditanya apakah Ballon d’Or selalu diberikan kepada pemain terbaik, Sneijder menilai penghargaan tersebut juga dipengaruhi faktor lain seperti popularitas dan klub yang dibela.
“Tidak selalu. Kadang faktor popularitas atau klub tempat bermain juga berperan. Lihat saja Ribery di 2013, atau bahkan Lewandowski di 2020 — mereka juga layak menang,” tambahnya.
Ribery dan Lewandowski Juga Merasa Dirugikan
Pernyataan Sneijder itu menambah panjang daftar pemain yang merasa tidak adil karena gagal memenangkan Ballon d’Or, meski tampil luar biasa dalam satu musim.
Franck Ribery, yang bersinar bersama Bayern Munich pada 2013, pernah menyebut penghargaan tersebut “dipolitisasi”. Ia berkata: “Itu tidak adil. Musim saya luar biasa, dan saya seharusnya menang. Mereka memperpanjang masa pemungutan suara, dan ada hal aneh yang terjadi. Saya merasa itu adalah keputusan politik.”

Hal serupa juga dirasakan Robert Lewandowski. Penyerang asal Polandia itu tampil luar biasa pada 2020 dan diyakini sebagai kandidat kuat pemenang Ballon d’Or. Sayangnya, acara tersebut dibatalkan karena pandemi COVID-19.
Bahkan saat Messi mengaku bahwa Lewandowski pantas menang di tahun itu, sang striker justru menilai pernyataan Messi sebagai “kata-kata kosong”.
“Saya ingin itu [pernyataan Messi] menjadi ungkapan tulus dari seorang pemain hebat, bukan sekadar basa-basi,” ucap Lewandowski.
Ketegangan di antara keduanya bahkan sempat memanas saat mereka bertemu di laga internasional, meski akhirnya mereda.


