Dalam kesempatan itu, Menhaj menekankan konsep Tri Sukses Haji sebagai arah besar penyelenggaraan ibadah haji. Sukses ritual diwujudkan melalui ibadah yang sah, tertib, dan khusyuk. Sukses ekosistem ekonomi haji diwujudkan lewat tata kelola yang memberi manfaat bagi bangsa. Sementara sukses keadaban dan peradaban diharapkan melahirkan pribadi yang lebih sabar, disiplin, santun, dan membawa kebaikan bagi Indonesia.
Kemenhaj juga menempatkan keselamatan jiwa dan keabsahan ibadah sebagai satu kesatuan kebijakan. Skema murur disiapkan bagi jemaah lansia, risiko tinggi, komorbid, penyandang disabilitas, serta pendampingnya agar pergerakan dari Arafah menuju Mina berlangsung lebih aman, tertib, dan tetap sesuai bimbingan manasik.
“Setiap jemaah harus merasa dilindungi. Setiap keterbatasan harus mendapat dukungan. Setiap petugas harus hadir dengan empati, sigap, dan memahami kebutuhan khusus jemaah,” ujar Menhaj.
Untuk mendukung kekhusyukan ibadah, Kemenhaj menyiapkan 15 porsi makanan siap santap bercita rasa Nusantara selama fase Armuzna. Distribusi konsumsi juga dilakukan lebih awal sejak 6 Dzulhijjah agar jemaah dapat lebih fokus beribadah.
Layanan haji tahun ini turut diperkuat melalui digitalisasi pengawasan dan pelaporan berbasis Command Center, SIKABAH, dan Kawal Haji. Sistem tersebut memungkinkan respons petugas menjadi lebih cepat, terukur, dan berbasis data.
Dalam tata kelola dam, Kemenhaj mencatat sebanyak 145.341 jemaah telah membayar dam. Sebanyak 102.364 melalui Adahi di Arab Saudi dan 38.992 melalui mekanisme di Indonesia. Sebagian besar daging dam jemaah Indonesia juga diarahkan untuk membantu masyarakat Palestina melalui koordinasi Adahi dan Pemerintah Arab Saudi.


