“Taruhannya bukan lagi soal popularitas atau jumlah penonton di media sosial, tetapi bertahan hidup. Karakter Juna membawa penonton merasakan kepanikan ketika ritual yang mereka lakukan justru membangkitkan sesuatu yang jauh lebih gelap,” kata Arbani.
Hal senada disampaikan Saputra Kori. Menurut dia, suasana yang dibangun selama proses produksi begitu kuat hingga para pemain ikut merasakan ketegangan yang nyata saat menjalani adegan-adegan penting, terutama ketika ritual Jelangkung dimulai.
Di balik antusiasme publik, film ini juga membawa kabar membanggakan dari panggung internasional. “402 Rumah Sakit Angker Korea” berhasil masuk Official Selection dalam ajang Bucheon International Fantastic Film Festival (BiFan) 2026 dan akan diputar dalam program prestisius Gala Presentation.
Untuk pasar internasional, film ini menggunakan judul “Korean Haunted Hospital”, sementara di Korea Selatan akan tayang dengan judul resmi “폐병원 402 (Pye-byeong-won 402)”.
Programmer BiFan, Martin Lee, menilai film ini mampu mempertahankan esensi ketegangan dari versi orisinal sekaligus menghadirkan pendekatan baru yang relevan dengan budaya digital masa kini.
Menurutnya, film tersebut berhasil mengangkat fenomena streaming dan pola konsumsi konten modern tanpa kehilangan unsur ketakutan yang menjadi daya tarik utama cerita.
Dengan kombinasi mitologi lokal Indonesia, atmosfer horor Korea yang kuat, serta pengakuan dari festival film internasional, “402 Rumah Sakit Angker Korea” berpotensi menjadi salah satu film horor paling diperbincangkan tahun ini. Ketika ritual Jelangkung bertemu tempat paling terkutuk di Korea Selatan, penonton hanya memiliki satu pilihan: bersiap menghadapi teror dari Ruangan 402.


